Judul: Kajian Filologis–Teologis atas Makna “ἐγένετο” (egeneto) dalam Yohanes 1:14 dan Ketidakmungkinan Makna “Berubah” dalam Inkarnasi Logos
Sdraku Daniel Alexander Taliwongso, kenanilah arti kata 𝐘𝐄𝐒𝐇𝐔𝐀, dimana arti kata 𝐘𝐄𝐒𝐇𝐔𝐀 disini itu artinya 𝐁𝐚𝐩𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐀𝐧𝐚𝐤. Dan arti 𝐁𝐚𝐩𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐀𝐧𝐚𝐤, itulah seperti yang dikatakan YESHUA di Yohanes 10:30. Dan arti dari 𝐁𝐚𝐩𝐚 𝐝𝐢𝐬𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐘𝐀𝐇𝐇 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐘𝐇𝐕𝐇 dari kata YESHUA, sedangkan kata Anak adalah MOSHIA (MESIAS) , dimana kata 𝐌𝐎𝐒𝐇𝐈𝐀 yang dikonjungasikan berasal dari kata 𝐘𝐚𝐬𝐡𝐚.
𝐘𝐄𝐒𝐇𝐔𝐀 = 𝐁𝐚𝐩𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐀𝐧𝐚𝐤 adalah Satu
a. Arti 𝐘𝐄𝐒𝐇𝐔𝐀 itu artinya 𝐀𝐤𝐮 dan 𝐁𝐚𝐩𝐚 adalah Satu!
Ada tertulis : 𝐀𝐤𝐮 dan 𝐁𝐚𝐩𝐚 adalah Satu. Yohanes 10:30
|
b. Arti 𝐘𝐄𝐒𝐇𝐔𝐀 itu artinya 𝐁𝐚𝐩𝐚 sendiri yang adalah 𝐉𝐮𝐫𝐮𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭!
𝐀𝐤𝐮 = 𝐌𝐎𝐒𝐇𝐈𝐀 dan 𝐁𝐚𝐩𝐚 = 𝐘𝐀𝐇𝐇 (𝐘𝐇𝐕𝐇)
Dan arti dari kata 𝐘𝐄𝐒𝐇𝐔𝐀 yang artinya : 𝗬͟𝗔͟𝗛͟𝗛͟ Will Save, 𝗬͟𝗔͟𝗛͟𝗛͟ Saves. Etymology : From (1) יה (𝗬͟𝗔͟𝗛͟𝗛͟), the name of the Lord, and (2) the verb ישע (𝗬͟𝗮͟𝘀͟𝗵͟𝗮͟'), to save. https://www.abarim-publications.com/Meaning/Jesus.html
|
c. 𝐀𝐫𝐭𝐢 𝐘𝐄𝐒𝐇𝐔𝐀 𝐢𝐭𝐮 𝐚𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐁𝐚𝐩𝐚 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧.
Jadi arti dari kata YESHUA disini, itu artinya Bapa sendiri yang bekerja untuk menyelamatkan. Jadi jika kata menyelamatkan disematkan menjadi pelaku, maka menjadi kata Penyelamatkan atau Juruselamat. Maka Pelaku yang adalah Penyelamat atau Juruselamat adalah Bapa itu sendiri yang adalah YAHH (YHVH).
|
d. 𝐀𝐫𝐭𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐤𝐚𝐭𝐚 𝐀𝐧𝐚𝐤 𝐢𝐭𝐮 𝐚𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐂𝐚𝐫𝐚 𝐊𝐞𝐫𝐣𝐚-𝐍𝐲𝐚 𝐁𝐚𝐩𝐚!
Dan kata Yasha disini adalah Kata Kerja, yang adalah Cara Kerja-Nya Bapa sendiri untuk menyelamatkan. Atau dengan kata lain, kata Anak itu artinya Cara Kerja-Nya Bapa! Jadi kata Anak disini bukanlah anak anakan atau anak yang berbentuk fisik, atau daging, tetapi arti dari kata Anak itu artinya Cara Kerja-Nya Bapa!
Judul: Kajian Filologis–Teologis atas Makna “ἐγένετο” (egeneto) dalam Yohanes 1:14 dan Ketidakmungkinan Makna “Berubah” dalam Inkarnasi Logos : 𝐅𝐢𝐫𝐦𝐚𝐧 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐚𝐠𝐢𝐧𝐠; 𝐅𝐢𝐫𝐦𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩 𝐘𝐇𝐕𝐇 𝐲𝐚𝐢𝐭𝐮 𝐄𝐥𝐨𝐡𝐢𝐦. Oleh karena itu 𝐅𝐢𝐫𝐦𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐘𝐇𝐕𝐇 𝐲𝐚𝐢𝐭𝐮 𝐄𝐥𝐨𝐡𝐢𝐦 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐘𝐄𝐒𝐇𝐔𝐀 𝐢𝐭𝐮 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐚𝐠𝐢𝐧𝐠 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 (𝐝𝐚𝐠𝐢𝐧𝐠, 𝐫𝐨𝐡 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐢𝐰𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚).
https://www.facebook.com/share/p/1H3gFPCiKm/
𝟏. 𝐌𝐨𝐫𝐟𝐨𝐥𝐨𝐠𝐢–𝐒𝐢𝐧𝐭𝐚𝐤𝐬𝐢𝐬 𝐘𝐮𝐧𝐚𝐧𝐢
|𝐅𝐢𝐫𝐦𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐘𝐇𝐕𝐇 𝐲𝐚𝐢𝐭𝐮 𝐄𝐥𝐨𝐡𝐢𝐦 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐘𝐄𝐒𝐇𝐔𝐀 𝐢𝐭𝐮 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐚𝐠𝐢𝐧𝐠 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚|
Verba ἐγένετο adalah aoristus medium dari γίνομαι, bukan dari μεταβάλλω (“berubah”), οἱόω (“bertransformasi”), atau μεταμορφόω (“berubah rupa”). γίνομαι secara morfologis menyatakan “menjadi dalam arti memasuki kondisi baru” tanpa makna perubahan esensi. Sintaksisnya dalam Yoh 1:14 menghubungkan subjek yang tetap sama (ὁ λόγος) dengan keadaan baru yang diambil-Nya (σάρξ). 𝐁𝐞𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐝𝐢𝐮𝐦 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐦𝐩𝐥𝐢𝐤𝐚𝐬𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐧𝐚𝐭𝐮𝐫 𝐢𝐥𝐚𝐡𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐧𝐚𝐭𝐮𝐫 𝐥𝐚𝐢𝐧, melainkan tindakan aktif Sang Logos memasuki eksistensi manusiawi.
|
𝟐. 𝐀𝐧𝐚𝐥𝐢𝐬𝐢𝐬 𝐒𝐞𝐦𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤 (𝐃𝐨𝐦𝐚𝐢𝐧 𝐌𝐚𝐤𝐧𝐚)
|𝐅𝐢𝐫𝐦𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐘𝐇𝐕𝐇 𝐲𝐚𝐢𝐭𝐮 𝐄𝐥𝐨𝐡𝐢𝐦 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐘𝐄𝐒𝐇𝐔𝐀 𝐢𝐭𝐮 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐚𝐠𝐢𝐧𝐠 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚|
Dalam domain makna Yunani Koine, γίνομαι tidak semantis dengan “mengalami perubahan ontologis.” Arti dasarnya adalah “mengambil bagian dalam suatu keadaan”, “mewujud dalam bentuk tertentu”, atau “menjadi hadir dalam cara baru”. Sebaliknya, jika penulis ingin menyatakan perubahan substansi atau transformasi, ia akan memilih verba lain. 𝐏𝐞𝐦𝐚𝐤𝐚𝐢𝐚𝐧 γίνομαι 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐢𝐥𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐨𝐥𝐨𝐠𝐢𝐬 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐠𝐚𝐬𝐤𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐤𝐚𝐫𝐧𝐚𝐬𝐢 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐚𝐫𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐞𝐬𝐞𝐧𝐬𝐢.
|
𝟑. 𝐋𝐞𝐤𝐬𝐢𝐤𝐨𝐧-𝐊𝐫𝐢𝐭𝐢𝐬 (𝐁𝐃𝐀𝐆, 𝐋𝐍, 𝐓𝐃𝐍𝐓)
|𝐅𝐢𝐫𝐦𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐘𝐇𝐕𝐇 𝐲𝐚𝐢𝐭𝐮 𝐄𝐥𝐨𝐡𝐢𝐦 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐘𝐄𝐒𝐇𝐔𝐀 𝐢𝐭𝐮 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐚𝐠𝐢𝐧𝐠 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚|
BDAG mencatat bahwa γίνομαι memiliki arti “menjadi/menampakkan diri dalam peran baru” tanpa menyentuh esensi. Louw–Nida menempatkannya dalam domain “peralihan eksistensial” sebagai fenomena baru dalam sejarah, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘮𝘶𝘵𝘢𝘴𝘪 𝘯𝘢𝘵𝘶𝘳. TDNT menegaskan bahwa pada Kristologi Yohanes, γίνομαι adalah “manifestasi historis”, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 “𝘮𝘶𝘵𝘢𝘴𝘪 𝘰𝘯𝘵𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪𝘴”. 𝐒𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐥𝐞𝐤𝐬𝐢𝐤𝐨𝐧 𝐛𝐞𝐬𝐚𝐫 𝐬𝐞𝐩𝐚𝐤𝐚𝐭 𝐛𝐚𝐡𝐰𝐚 ἐγένετο 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐘𝐨𝐡 𝟏:𝟏𝟒 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐞𝐬𝐮𝐚𝐭𝐮 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐢𝐧 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡.
|
𝟒. 𝐄𝐤𝐬𝐞𝐠𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐊𝐨𝐧𝐭𝐞𝐤𝐬𝐭𝐮𝐚𝐥
|𝐅𝐢𝐫𝐦𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐘𝐇𝐕𝐇 𝐲𝐚𝐢𝐭𝐮 𝐄𝐥𝐨𝐡𝐢𝐦 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐘𝐄𝐒𝐇𝐔𝐀 𝐢𝐭𝐮 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐚𝐠𝐢𝐧𝐠 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚|
Konteks Yohanes 1:1–18 menegaskan bahwa Logos tetap berada dalam kategori ilahi (“θεὸς ἦν ὁ λόγος”). Ketika ayat 14 menambahkan “ἐσκήνωσεν ἐν ἡμῖν” (berkemah/berdiam di antara kita), konteksnya menafsirkan “σάρξ ἐγένετο” 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐞𝐬𝐞𝐧𝐬𝐢, 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩𝐢 “𝐤𝐞𝐡𝐚𝐝𝐢𝐫𝐚𝐧 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐭𝐚𝐛𝐞𝐫𝐧𝐚𝐤𝐞𝐥 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚𝐰𝐢.” Eskatologis dan naratif dalam prolog menegaskan continuity of identity: Firman tetap Firman, tetapi hadir dalam sejarah sebagai manusia sejati.
|
𝟓. 𝐓𝐞𝐨𝐥𝐨𝐠𝐢 𝐁𝐢𝐛𝐥𝐢𝐤𝐚 – 𝐈𝐧𝐤𝐚𝐫𝐧𝐚𝐬𝐢
|𝐅𝐢𝐫𝐦𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐘𝐇𝐕𝐇 𝐲𝐚𝐢𝐭𝐮 𝐄𝐥𝐨𝐡𝐢𝐦 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐘𝐄𝐒𝐇𝐔𝐀 𝐢𝐭𝐮 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐚𝐠𝐢𝐧𝐠 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚|
Inkarnasi tidak berarti perubahan hakikat Allah menjadi manusia, melainkan pengambilan natur manusiawi tanpa kehilangan natur ilahi. Dalam formulasi klasik, dua natur (ilahi–manusia) bersatu dalam satu pribadi (hypostasis) tanpa percampuran, perubahan, pembagian, atau pemisahan. Ini sejalan dengan kesaksian PL bahwa Tuhan tidak berubah dalam esensi-Nya (Mal 3:6), dan 𝐤𝐞𝐬𝐚𝐤𝐬𝐢𝐚𝐧 𝐘𝐞𝐬𝐮𝐬 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐛𝐚𝐡𝐰𝐚 𝐈𝐚 “𝐭𝐮𝐫𝐮𝐧 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐬𝐮𝐫𝐠𝐚” 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐤𝐞𝐡𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐢𝐥𝐚𝐡𝐢𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚 (𝐘𝐨𝐡 𝟔:𝟑𝟖). 𝐃𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐝𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐚𝐧, “𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐚𝐠𝐢𝐧𝐠” 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐮𝐧𝐠𝐤𝐢𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐞𝐬𝐞𝐧𝐬𝐢.
|
𝟔. 𝐏𝐞𝐫𝐛𝐚𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐅𝐢𝐥𝐨𝐬𝐨𝐟𝐢 𝐏𝐞𝐧𝐞𝐫𝐣𝐞𝐦𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐅𝐄 𝐯𝐬 𝐃𝐄
FE (formal equivalence) mempertahankan bentuk literal “menjadi daging”, tetapi tetap memahami makna teologisnya sebagai manifestasi, 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧. DE (dynamic equivalence) memilih “menjadi manusia” agar pembaca modern tidak salah mengira bahwa “daging” adalah proses metamorfosis. Dalam kedua pendekatan, kata “menjadi” 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐭𝐞𝐫𝐣𝐞𝐦𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 “𝐛𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡”, tetapi sebagai “mengambil keadaan historis baru.” 𝐓𝐞𝐫𝐣𝐞𝐦𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐃𝐄 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐞𝐠𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐦𝐨𝐝𝐞𝐫𝐧 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐡𝐚𝐦𝐢 𝐤𝐨𝐧𝐬𝐞𝐩 𝐢𝐧𝐤𝐚𝐫𝐧𝐚𝐬𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐞𝐬𝐞𝐧𝐬𝐢.
|
𝟕. 𝐀𝐧𝐚𝐥𝐢𝐬𝐢𝐬 𝐓𝐁𝟏 𝐯𝐬 𝐓𝐁𝟐 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐃𝐄
TB1 cenderung lebih literal di beberapa bagian, namun tetap berada dalam jalur interpretasi gerejawi bahwa ἐγένετο menyatakan inkarnasi, bukan perubahan. TB2 memperluas unsur DE agar lebih komunikatif. Karena itu, frasa “menjadi manusia” dalam TB2 mempertahankan makna asli tetapi menghindari ketersesatan pembaca modern yang menafsirkan “daging” sebagai proses biologis. 𝐁𝐚𝐢𝐤 𝐓𝐁𝟏 𝐦𝐚𝐮𝐩𝐮𝐧 𝐓𝐁𝟐, 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐃𝐄, 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐛𝐞𝐫𝐦𝐚𝐤𝐬𝐮𝐝 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐛𝐚𝐡𝐰𝐚 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐛𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐦𝐚𝐤𝐡𝐥𝐮𝐤 𝐥𝐚𝐢𝐧 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐞𝐡𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐢𝐥𝐚𝐡𝐢𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚.
|
𝟖. 𝐈𝐧𝐭𝐞𝐫𝐭𝐞𝐤𝐬𝐭𝐮𝐚𝐥𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐏𝐁 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐫𝐱
Dalam Rm 1:3; Gal 4:4; Ibr 2:14, sarx menunjuk pada “kondisi manusiawi” yang diambil Kristus, 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐢𝐥𝐚𝐡𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐦𝐚𝐭𝐞𝐫𝐢𝐚𝐥𝐢𝐭𝐚𝐬. Ketika PB berbicara tentang “datang dalam daging” (1Yoh 4:2), 𝐤𝐨𝐧𝐭𝐞𝐤𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐫𝐨𝐬𝐞𝐬 𝐨𝐧𝐭𝐨𝐥𝐨𝐠𝐢𝐬 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐛𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐛𝐞𝐧𝐭𝐮𝐤, melainkan pernyataan historis bahwa Yang Ilahi hadir secara nyata sebagai manusia sejati. Intertekstualitas ini menegaskan konsistensi bahwa sarx adalah “pengambilan kemanusiaan”, bukan “perubahan esensi Allah.”
|
𝟗. 𝐀𝐧𝐭𝐢-𝐡𝐞𝐫𝐞𝐬𝐢 𝐘𝐨𝐡𝐚𝐧𝐞𝐬 (𝐚𝐧𝐭𝐢-𝐝𝐨𝐤𝐞𝐭𝐢𝐬𝐦𝐞)
Doketisme mengajarkan bahwa Yesus hanya tampak seperti manusia. Yohanes menegaskan kebalikannya melalui σάρξ ἐγένετο. Tetapi ia tetap berhati-hati tidak memakai verba yang menandai perubahan esensi. Pemilihan γίνομαι melawan doketisme tanpa jatuh pada kesan “Allah berubah menjadi materi.” Dengan demikian, anti-heresi ini menguatkan bahwa “menjadi daging” adalah manifestasi, 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐫𝐚𝐧𝐬𝐟𝐨𝐫𝐦𝐚𝐬𝐢 𝐬𝐮𝐛𝐬𝐭𝐚𝐧𝐬𝐢𝐚𝐥.
|
𝟏𝟎. 𝐅𝐢𝐥𝐨𝐥𝐨𝐠𝐢 𝐬𝐞𝐣𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐞𝐫𝐣𝐞𝐦𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐠𝐞𝐫𝐞𝐣𝐚
Sejak Vulgata (“caro factum est”), gereja memahami factum est sebagai “menjadi hadir dalam cara baru”, bukan “berubah substansi.” Terjemahan Peshitta, Coptic, Armenia, Latin Klasik, Syriac, hingga Reformasi (Luther: “fleisch ward”), semuanya menafsirkan γίνομαι sebagai “pengambilan kemanusiaan” bukan “perubahan hakikat.” Tradisi dua milenium ini konsisten: 𝐋𝐨𝐠𝐨𝐬 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐞𝐬𝐮𝐚𝐭𝐮, tetapi menyatakan diri-Nya dalam eksistensi manusia sejati.
Kesimpulannya, “menjadi” dalam Yohanes 1:14, 𝐛𝐞𝐫𝐝𝐚𝐬𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐨𝐫𝐟𝐨𝐥𝐨𝐠𝐢, 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤, 𝐥𝐞𝐤𝐬𝐢𝐤𝐨𝐧, 𝐞𝐤𝐬𝐞𝐠𝐞𝐬𝐢𝐬, 𝐭𝐞𝐨𝐥𝐨𝐠𝐢, 𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫𝐭𝐞𝐤𝐬𝐭𝐮𝐚𝐥𝐢𝐭𝐚𝐬, 𝐬𝐞𝐣𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐭𝐫𝐚𝐝𝐢𝐬𝐢 𝐠𝐞𝐫𝐞𝐣𝐚, 𝐬𝐞𝐫𝐭𝐚 𝐩𝐫𝐢𝐧𝐬𝐢𝐩 𝐢𝐧𝐤𝐚𝐫𝐧𝐚𝐬𝐢 𝐨𝐫𝐭𝐨𝐝𝐨𝐤𝐬, 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐫𝐭𝐢 “𝐛𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐞𝐬𝐞𝐧𝐬𝐢.” 𝐅𝐢𝐫𝐦𝐚𝐧 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐚𝐠𝐢𝐧𝐠; 𝐅𝐢𝐫𝐦𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩 𝐢𝐥𝐚𝐡𝐢 dan mengambil natur manusiawi agar hadir di dalam sejarah sebagai Yesus Kristus yang sejati Allah dan sejati manusia.
Kata 𝐄𝐬𝐤ē𝐧ō𝐬𝐞𝐧 di 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 1:14 adalah jawaban doktrinnya 𝐈𝐧-𝐂𝐚𝐫𝐧𝐞!
a. Arti "𝐈𝐧-𝐂𝐚𝐫𝐧𝐞" : "𝐝𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡, dimana kata "𝐈𝐧" yang artinya "𝐝𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦" itu mendeskripsikan arti dari keberadaan "𝐂𝐚𝐫𝐧𝐞 atau 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡" yang 𝐛𝐞𝐫𝐛𝐞𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐫𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐡𝐚𝐦𝐩𝐚. Dan keberadaan kata "𝐈𝐧" disini bermaksud 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐣𝐚𝐤 𝐬𝐞𝐬𝐮𝐚𝐭𝐮 supaya 𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐞𝐦𝐚𝐡 atau 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐢𝐚𝐦𝐢 atau 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡, sehingga tubuh itu menjadi hidup atau dibangkitkan (𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 2:19-21). Dan arti dari kata 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐞𝐦𝐚𝐡 atau 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐢𝐚𝐦𝐢 atau 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐢 itu berasal dari kata 𝐄𝐬𝐤ē𝐧ō𝐬𝐞𝐧 di 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 1:14.
b. Arti "𝐈𝐧-𝐂𝐚𝐫𝐧𝐞" : "𝐝𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡, dimana kata "𝐂𝐚𝐫𝐧𝐞" yang artinya "𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡" yang erat kaitannya dengan kata 𝐒𝐤ē𝐧𝐨𝐮𝐬 yaitu kata asal dari kata 𝐄𝐬𝐤ē𝐧ō𝐬𝐞𝐧. Dimana kata 𝐒𝐤ē𝐧𝐨𝐮𝐬 yang artinya gubuk atau tempat tinggal sementara, yaitu (secara kiasan) "𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚" atau "𝐂𝐚𝐫𝐧𝐞" (sebagai tempat tinggal ruh): - tabernakel.
|
Maka pengertian 𝐈𝐧-𝐂𝐚𝐫𝐧𝐞 yang benar, adalah Tuhan yang telah menyatakan Diri-Nya adalah Roh (𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 4:24), yang dengan penuh kemuliaan-Nya dan penuh kasih dan Kebenaran-Nya, dan telah datang dan berkemah di dalam tubuh (𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 1:14; 𝘙𝘰𝘮𝘢 9:5; 1𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 4:2; 2𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 1:7), dan 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚!!!
𝘊𝘢𝘵𝘢𝘵𝘢𝘯 : kata terjemhan menjadi daging bukanlah arti manusia, tetapi kata menjadi daging di 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 1:14 disini memberitahukan kepada kita semua, bahwa kata 𝐂𝐚𝐫𝐧𝐞 atau tubuh itu yang menyerupai wujud bentuknya seperti manusia, 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐝𝐢𝐚𝐦𝐢 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐅𝐢𝐫𝐦𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐘𝐇𝐕𝐇 𝐲𝐚𝐢𝐭𝐮 𝐄𝐥𝐨𝐡𝐢𝐦, 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐘𝐄𝐒𝐇𝐔𝐀!
|
Adanya kata 𝐞𝐬𝐤ē𝐧ō𝐬𝐞𝐧 pada frasa 2 di Yohanes 1:14, yang menunjukan bahwa sarx itu sebagai tempat perkemahan atau tempat tinggal untuk didiami atau untuk ditempati oleh Firman. Maka arti dari kata 𝐞𝐬𝐤ē𝐧ō𝐬𝐞𝐧 disini, memberitahukan bahwa ada kegiatan sebelumnya, yaitu ada 𝐤𝐞𝐠𝐢𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐮𝐭𝐮𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐝𝐚𝐭𝐚𝐧𝐠 untuk menempati atau untuk berkemah mendiami pada wadah yang telah disediakan.
|
Kata 𝐈𝐧𝐤𝐚𝐫𝐧𝐚𝐬𝐢 ini terbentuk dari dua kata yaitu kata 𝐞𝐧 dan kata 𝐜𝐚𝐫𝐧𝐞, dimana kata en itu artinya 𝐝𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 yang menunjukan sebuah wadah yang berongga untuk ditempati. Oleh karena itu kata en disini sangatlah erat kaitan berhubungan dengan arti kata 𝐞𝐬𝐤ē𝐧ō𝐬𝐞𝐧, yang artinya "telah berdiam atau telah menempati", pada sebuah tempat atau wadah yang telah dipersiapkan sebagai tempat tinggal untuk ditempati atau didiami oleh Firman. Dan tempat wadah yang dimaksudkan itu adalah sarx atau tubuh (Carne), yang telah disediakan sebagi bukti yang telah disebutkan di Yohanes 1:14.
Jadi sama seperti sdra berdiam dan tinggal di dalam sebuah bajana atau rumah, maka disini mengindikasikan ada kegiatan sebelumnya bahwa sdr itu datang dan bukannya menjadi, tetapi berpergian untuk datang, yang akhirnya berdiam dan tinggal di dalam rumah, dan bukannya sdra menjadi rumah atau menjadi bangunan.
|

